Menunggu Hujan Reda

Hujan turun ketika sang surya tepat berada diatas ubun-ubun. Tersisa 5 orang yang sedang menunggu hujan dan salah satu diantara 5 orang itu aku dan dia. Aku tahu apa yang aku lakukan, aku jongkok dengan tas di dadaku dan meikmati hujan, dia bertanya “kenapa? kenapa kamu begitu terlihat bahagia? kita tidak bisa pulang dan kita hanya diam disini.” Aku hanya tersenyum kepadanya dan menjawab “aku hanya menikmati hari ini, dari pada kita mengutuk hujan yang jatuh waktu ini, dan kita hanya merasa jengkel dalam hati. Kenapa tidak kita nikmati saja waktu ini, waktu yang tuhan berikan untuk disukuri”.

 

Air mengalir di sela-sela kaki ku menuju selokan dengan penutup besi, aku jongkok bersandar dinding yang terkena cipratan air, tak apalah toh nanti baju ini aku cuci. Diantara 5 orang yang sedang menunggu hujan reda, hanya aku yang memiliki gender berbeda. Hanya suara air yang jatuh dari langit mengenai benda yang ada di bumi, semuanya diam. Aku curi-curi pandang kepadanya, demi tuhan di cantik sekali. Aku mengagumi kencantikannya dan aku jatuh cinta kepadanya, itu bukan hal yang baru tapi sudah 6 bulan kurasakan hal ini.

 

Hujan berganti menjadi gerimis dan bau harum hawa setelah hujan pun terasa, menyenangkan sekali berada di saat ini. Aku melihat dia tersenyum. Kepalanya mengarah ke kepalaku dan matanya melihat mataku, aku meleleh. “Kamu” suaranya memecah kesunyian, “apa?” ku jawab dengan lantang tapi dengan senyum agar seuasana menjadi ramai. Di menanyakan kapan aku akan pulang, dan aku pun menjawab ketika kalian sudah pulang dengan selamat, aku lelaki disini dan itu artinya aku akan menjaga kalian. Aku tertawa melihat mereka menatapku dengan ragu, ya kalau ada apa-apa ya kita hadapi bersama jangan aku jadi tumbal, kita kan teman. Semuanya Tertawa walau dengan tatapan yang sedikit meragukan.

 

Hujan pun reda, aku mengajak mereka untuk berjalan pulang bersama dan sungguh indah hari ini, berjalan pulang sehabis hujan di jalan dengan pohon-pohon segar yang ada di samping kir dan kanan. Kita berpisah tetapi dia menghentikanku, dia mengajak untuk berjalan bersama karena tujuan kita memang searah. Berjalan berdua di antara pohon yang basah dengan aroma segar khas air hujan, benar-benar membuat hari ini indah. Kita hanya ngobrol masalah pekerjaan selama di jalan, bukan karena aku tidak pandai berbicara tapi karena jantung ini tak mau berdegup pelan seperti biasa dan otak ini semacam mengkudeta apa yang aku kehendaki. Aku hanya tersenyum karena hari ini benar-benar indah. Kita berpisah di pertigaan jalan yang memisahkan tujuan kita, kulihat punggungnya menjauh dan kulihat ke atas berterima kepada tuhan telah diciptakan waktu ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s